Pages

Text Widget

Text Widget

Categories

Jumat, 02 Agustus 2013

Cerpen : Seandainya Kamu Tahu



Seandainya Kamu Tahu
            "Bego” itu adalah kata yang langsung terpikir olehku. Di saat seperti ini kenapa aku bertindak seperti itu padanya. “UUhhhh bego banget aku ini”. Aku pulang ke rumah dengan wajah yang sedikit kecewa, kecewa pada diriku sendiri. “Kamu kok gitu nak sama temen kamu yang tadi?” tanya mama kepadaku. “Temen yang mana ma?”. Mama ngejawab “itu temen cowok kamu yang manggil-manggil kamu terus di acara perpisahan tadi.” Dengan gelagapan aku cuman bilang “ masa aku gak denger tuh ma kalau ada yang manggil-manggil aku”. Dan sebelum mama menanggapi jawabanku aku berlari ke kamar “ Ma udah yach aku capek mau istirahat”.
            Di kamar aku termenung sejenak dan mengingat kembali kebodohanku di acara perpisahan tadi. Sambil menghela napas aku bergegas untuk mandi yah aku harap dengan mandi mungkin aku bisa sedikit lebih rileks dan bisa tenang. Setelah mandi aku mangambil baju kaos dan celana pendek tak lama kemudian terduduk di kursi sambil melihat wajahku di cermin. “ Aku ini tak secantik dia, tak sepopuler dia dan tak sekaya dia aku hanya seorang gadis yang biasa-biasa saja. Apa salah aku berharap padamu?” kalimat itu terbayang-bayang di benakku ketika mengingat memori di mana aku memendam rasa untuknya.
            Seakan kembali ke masa lalu aku ingat betul saat pertama kali kita bertemu saat hari masuk SMA saat itu kita berdua lupa membawa perlengkapan MOS dan akhirnya kita berdua dihukum untuk bernyanyi. Mengingat itu aku jadi tersenyum sekaligus malu karena saat itu kita berdua sama-sama tidak begitu hafal dengan lirik lagu. Selama 1 tahun kita menjadi teman sekelas dan begitu banyak kenang ketika kita kerja kelompok bersama dan awal kita menjadi akrab ketika kita ternyata punya hobi yang sama yaitu menggambar alhasil kita berdua masuk ekskul melukis.
            Waktu terasa begitu cepat tak terasa kita beranjak ke kelas 2 dan pada saat itulah kita terpisah karena kelas kita yang berbeda. Hummm rasanya sedih harus terpisah begini, hubungan kita jadi tidak seakrab yang dulu selain karena kita jarang bertemu juga karena kehadiran dirinya di dalam hidupmu. Aya seorang gadis yang cantik yang populer di sekolah menjadi teman terdekatmu mungkin karena kalian sekelas makanya kalian terlihat sering bersama di sekolah tapi hubungan baik kalian berdua juga berlangsung di luar sekolah. Semuanya nampak jelas ketika kalian sering jalan keluar bareng yaaa di sekolah itu anak-anak selalu bilang dimana ada kamu pasti ada Aya.
            Pertengahan semester kelas 2 akhirnya Aya punya pacar dan itu membuatku sedikit lega yaa aku berpikir musnah sudah kemungkinan bahwa kalian itu pacaran. Entah mengapa setiap hariku hanya dipenuhi dengan memikirkan kamu,nilai-nilaiku yang dulunya bagus semakin menurun dna hal itu membuatku stress apalagi kita sudah mau naik ke kelas 3. Yaahh ternyata walaupun Aya punya pacar kamu masih tetap saja perhatian padanya dan itu membuatku semakin galau. Aku jadi susah konstrasi deh kalau mau belajar aku malah ngebuat sketsa wajah kamu, kelihatannya aku udah mulai gila deh.
            Akhirnya aku menceritakan semua keluh kesahku pada Lina sahabatku, dia sih sempat marah karena aku terlambat menceritakan perasaan yang kupendam selama ini untuk kamu. Tapi akhirnya dia mengerti, dia malah memberiku pilihan yang pertama aku berjuang untuk mendapatkan cinta kamu atau pilihan kedua yaitu melupakanmu alias move on tapi aku bingung memilihnya.
            Menuju ke kelas 3 semuanya semakin memburuk karena Aya menjalani LDR dengan pacarnya. Aku berpikir dengan begitu kalian berdua akan lebih leluasa untuk jalan berdua lagi dan semua itupun benar adanya. Kamu jadi jarang masuk di ekskul melukis kamu malah sibuk nemenin Aya dan teman-teman populernya untuk ke sana ke mari. Kamu sih cuman selalu bilang kalau kalian berdua itu bersahabat makanya sering jalan bareng tapi buat orang-orang yang gak tahu kalau Aya udah punya pacar pasti menganggap kalau kalian pacaran.
            Aku mulai semakin menggila setiap hari kerjaku cuman menggambar, melamun dan mendengarkan lagu-lagu galau terus. Dan akhirnya muncullah seorang adik kelas yang sering memberiku film dan drama korea. Kami menjadi semakin akrab dan dia sedikit bisa menghiburku dengan tingkah lucunya, akupun akhirnya curhat juga dengan dia tentang perasaanku padamu. Dan sama juga seperti Lina sahabatku dia memberi komentar yang hampir sama hanya saja penyampaian anak ini lebih lucu dan lebih masuk akal. Kalau suka ya bilang dong kak atau Move on aja dech abis kakak kayak gak ada usahanya dech cuman terus berharap agar si doi bisa tahu perasaan kakak, itu yang selalu diucapkan oleh anak itu. Benar juga sih yang dia bilangin tapi mana mungkin aku harus mengungkapkan perasaanku ke kamu sedangkan kamu sendiri sepertinya punya perasaan sama Aya ya mungkin kamu cuman gak enak aja bilang kalau kamu suka sama dia karena dia udah nganggap kamu sebagai sahabat  terlebih lagi dia juga sudah punya pacar. 
          Aku memilih untuk berusaha move on. Hari ini kamu akhirnya masuk ekskul kamu duduk di sebelah tempat kesukaanku tapi untuk hari ini aku memilih untuk duduk di tempat lain saja karena aku sudah berkomitmen untuk move on. Perlahan namun pasti aku semakin menjauh dari kamu dan membuka hati untuk orang lain yang selama ini suka sama aku. Aryo, anak yang slama ini memerhatikanku selama masuk di ekskul melukis, dimulai dari sering ngechat sampai smsan sama dia lalu pada akhirnya sepulang kegiatan ekskul Aryo menawariku tumpangan untuk pulang dan tentu saja aku tidak menolak karena aku tidak dijemput oleh papa hari ini. Kamu hanya tersenyum ketika kamu lewat di depan kami.

            Awalnya aku sempat berhasil menghilangkan kamu dari pikiranku karena kehadiran Aryo tapi perlahan namun pasti kebiasaan yang dulu kembali lagi, karena aku gak ngerasain ada feeling sama cowok yang lain selain kamu. Di lapangan sekolah aku sempat melihat kamu sedang membuat sketsa wajah perempuan tapi aku tidak begitu jelas melihat wajah itu yang ku lihat hanya gambar  seorang perempuan yang memiliki rambut yang panjang dan aku langsung saja berpikir kalau itu sketsa wajah Aya.
             Ujian Akhir semakin dekat mama dan papa semakin menjadi, setiap hari aku disuruh belajar tapi mau bagaimana lagi aku gak bisa konsentrasi karena teringat kamu lagi dan lagi bahkan sampai UNpun tiba aku tetap susah konsentrasi belajar karena ingat kamu, tapi aku harus bagaimana lagi aku gak bisa move on dan untuk ngakuin perasaan aku juga pesimis karena aku gak ada apa-apanya kalau dibandingin dengan Aya cewek pujaan kamu. Aku jadi sering menghindar dan berusaha untuk belajar walaupun itu sangat sulit.
            UN berlalu sekarang tinggal menunggu hasilnya. Alhamdulillah kita semua lulus. Di malam setelah pengumuman hasil UN aku sempat sedih juga sih karena harus berpisah dari semua teman-teman terlebih lagi kamu.
            Khayalan ku tentang masa lalu kita buyar ketika mama mengetuk pintu kamar.
Tokk..tokk.tokk. “Nak ayo makan malam sudah siap”.
“Ohhh iya Ma tunggu sebentar”. Jawabku
            Di meja makan terhidang makan yang banyak.
“ Pa kok makanannya banyak banget yach? “. Tanyaku
“Kata mamamu sih anggap aja ini pesta perayaan kelulusan kamu”. Papa menjawab dengan tersenyum
“Lahh kalau mau ngerayaain kelulusan tuh seharusnya saat seteleh pengumuman kelulusan bukannya setelah perpisahan sekolah begini sekalian aja pas aku masuk perguruan tinggi bikin perayaannya”. Sindirku
            Papa dan Mama pun hanya tertawa kecil. Sambil makan Mama malah melanjutkan percakapan tadi sore sepulang kami dari acara perpisahan sekolahku.
“ Pa tahu tidak anak kita ternyata sombong juga yah” Ujar mama.
       “Maksud Mama apa?” tanya Papa
“ Tadi ada cowok yang manggil-manggil dia tapi malah dicuekin Pa”.
       “ Ahh masa sich ma anak kita kayak gitu?”.
“ Ihhh mama aku kan gak denger kalau ada yang manggil aku” aku menjawab dengan harapan mama berhenti membahas ini.
       “ Masa sih kamu gak deket orang dia duduk gak jauh dari kamu, mama aja yang udah tua gini masih bisa denger dengan jelas”.
“ Serius ma aku gak denger”.
       Alhamdulillah mama tidak melanjutkan pembicaraan ini karena telepon rumah tiba-tiba saja bordering. Setelah kenyang aku langsung menuju ke kamar dan merebahkan tubuh di tempat tidur. Aku terpikir kembali dengan sikapku di perpisahan tadi. Terbayang suasana perpisahan tadi, kamu duduk di belakang tak jauh dari tempat dudukku sambil memanggil-manggil namaku. Leherku rasanya berat untuk menoleh walaupun aku tahu benar bahwa kamu yang memanggil-manggil namaku.
       Saat mau pulang aku melihat kamu membawa sebuah kertas gambar dengan diikat pita aku rasa itu pasti sketsa wajah yang waktu itu kamu buat dan itu sudah pasti untuk Aya. Ketika di gerbang aku melihat kamu dan teman-temanmu yang lain sedang berfoto-foto, apa mungkin karena kamu mendapati aku memerhatikan kamu, kamu langsung saja berteriak memanggil namaku. Karena salah tingkah dan malu aku pun langsung saja berlari seakan-akan aku tidak mendengarmu.
       Aku yakin pasti kamu marah atau mungkin kecewa dengan sikap itu tapi seandainya saja kamu tahu alasan aku. Aku cuman berusaha menghindar agar aku tidak selalu menunggu harapan palsu darimu karena dengan semua kebaikan dan keramahanmu padaku hanya selalu membuatku merasa ada harapan untuk kita bisa bersatu.
       Sebelum tertidur aku sempat smsan menceritakan kejadian di perpisahan sekolah tadi pada si adik kelasku. Mataku jaid semakin berat dan aku pun mengatakan “aku suka sama kamu Rio, seandainya kamu tahu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Designed ByBlogger Templates