"Bego” itu adalah kata yang langsung
terpikir olehku. Di saat seperti ini kenapa aku bertindak seperti itu padanya. “UUhhhh
bego banget aku ini”. Aku pulang ke rumah dengan wajah yang sedikit kecewa,
kecewa pada diriku sendiri. “Kamu kok gitu nak sama temen kamu yang tadi?”
tanya mama kepadaku. “Temen yang mana ma?”. Mama ngejawab “itu temen cowok kamu
yang manggil-manggil kamu terus di acara perpisahan tadi.” Dengan gelagapan aku
cuman bilang “ masa aku gak denger tuh ma kalau ada yang manggil-manggil aku”. Dan
sebelum mama menanggapi jawabanku aku berlari ke kamar “ Ma udah yach aku capek
mau istirahat”.
Di kamar aku termenung sejenak dan
mengingat kembali kebodohanku di acara perpisahan tadi. Sambil menghela napas
aku bergegas untuk mandi yah aku harap dengan mandi mungkin aku bisa sedikit
lebih rileks dan bisa tenang. Setelah mandi aku mangambil baju kaos dan celana
pendek tak lama kemudian terduduk di kursi sambil melihat wajahku di cermin. “
Aku ini tak secantik dia, tak sepopuler dia dan tak sekaya dia aku hanya
seorang gadis yang biasa-biasa saja. Apa salah aku berharap padamu?” kalimat itu
terbayang-bayang di benakku ketika mengingat memori di mana aku memendam rasa
untuknya.
Seakan kembali ke masa lalu aku
ingat betul saat pertama kali kita bertemu saat hari masuk SMA saat itu kita berdua
lupa membawa perlengkapan MOS dan akhirnya kita berdua dihukum untuk bernyanyi.
Mengingat itu aku jadi tersenyum sekaligus malu karena saat itu kita berdua
sama-sama tidak begitu hafal dengan lirik lagu. Selama 1 tahun kita menjadi
teman sekelas dan begitu banyak kenang ketika kita kerja kelompok bersama dan
awal kita menjadi akrab ketika kita ternyata punya hobi yang sama yaitu menggambar
alhasil kita berdua masuk ekskul melukis.
Waktu terasa begitu cepat tak terasa
kita beranjak ke kelas 2 dan pada saat itulah kita terpisah karena kelas kita
yang berbeda. Hummm rasanya sedih harus terpisah begini, hubungan kita jadi
tidak seakrab yang dulu selain karena kita jarang bertemu juga karena kehadiran
dirinya di dalam hidupmu. Aya seorang gadis yang cantik yang populer di sekolah
menjadi teman terdekatmu mungkin karena kalian sekelas makanya kalian terlihat
sering bersama di sekolah tapi hubungan baik kalian berdua juga berlangsung di
luar sekolah. Semuanya nampak jelas ketika kalian sering jalan keluar bareng
yaaa di sekolah itu anak-anak selalu bilang dimana ada kamu pasti ada Aya.
Pertengahan semester kelas 2
akhirnya Aya punya pacar dan itu membuatku sedikit lega yaa aku berpikir musnah
sudah kemungkinan bahwa kalian itu pacaran. Entah mengapa setiap hariku hanya dipenuhi
dengan memikirkan kamu,nilai-nilaiku yang dulunya bagus semakin menurun dna hal
itu membuatku stress apalagi kita sudah mau naik ke kelas 3. Yaahh ternyata walaupun
Aya punya pacar kamu masih tetap saja perhatian padanya dan itu membuatku
semakin galau. Aku jadi susah konstrasi deh kalau mau belajar aku malah ngebuat
sketsa wajah kamu, kelihatannya aku udah mulai gila deh.
Akhirnya aku menceritakan semua
keluh kesahku pada Lina sahabatku, dia sih sempat marah karena aku terlambat
menceritakan perasaan yang kupendam selama ini untuk kamu. Tapi akhirnya dia
mengerti, dia malah memberiku pilihan yang pertama aku berjuang untuk
mendapatkan cinta kamu atau pilihan kedua yaitu melupakanmu alias move on tapi
aku bingung memilihnya.
Menuju ke kelas 3 semuanya semakin
memburuk karena Aya menjalani LDR dengan pacarnya. Aku berpikir dengan begitu
kalian berdua akan lebih leluasa untuk jalan berdua lagi dan semua itupun benar
adanya. Kamu jadi jarang masuk di ekskul melukis kamu malah sibuk nemenin Aya
dan teman-teman populernya untuk ke sana ke mari. Kamu sih cuman selalu bilang
kalau kalian berdua itu bersahabat makanya sering jalan bareng tapi buat
orang-orang yang gak tahu kalau Aya udah punya pacar pasti menganggap kalau
kalian pacaran.
Aku mulai semakin menggila setiap
hari kerjaku cuman menggambar, melamun dan mendengarkan lagu-lagu galau terus. Dan
akhirnya muncullah seorang adik kelas yang sering memberiku film dan drama
korea. Kami menjadi semakin akrab dan dia sedikit bisa menghiburku dengan
tingkah lucunya, akupun akhirnya curhat juga dengan dia tentang perasaanku
padamu. Dan sama juga seperti Lina sahabatku dia memberi komentar yang hampir
sama hanya saja penyampaian anak ini lebih lucu dan lebih masuk akal. Kalau suka
ya bilang dong kak atau Move on aja dech abis kakak kayak gak ada usahanya dech
cuman terus berharap agar si doi bisa tahu perasaan kakak, itu yang selalu
diucapkan oleh anak itu. Benar juga sih yang dia bilangin tapi mana mungkin aku
harus mengungkapkan perasaanku ke kamu sedangkan kamu sendiri sepertinya punya
perasaan sama Aya ya mungkin kamu cuman gak enak aja bilang kalau kamu suka
sama dia karena dia udah nganggap kamu sebagai sahabat terlebih lagi dia juga sudah punya pacar.
Aku
memilih untuk berusaha move on. Hari ini kamu akhirnya masuk ekskul kamu duduk
di sebelah tempat kesukaanku tapi untuk hari ini aku memilih untuk duduk di
tempat lain saja karena aku sudah berkomitmen untuk move on. Perlahan namun
pasti aku semakin menjauh dari kamu dan membuka hati untuk orang lain yang
selama ini suka sama aku. Aryo, anak yang slama ini memerhatikanku selama masuk
di ekskul melukis, dimulai dari sering ngechat sampai smsan sama dia lalu pada
akhirnya sepulang kegiatan ekskul Aryo menawariku tumpangan untuk pulang dan
tentu saja aku tidak menolak karena aku tidak dijemput oleh papa hari ini. Kamu
hanya tersenyum ketika kamu lewat di depan kami.
Awalnya aku sempat berhasil
menghilangkan kamu dari pikiranku karena kehadiran Aryo tapi perlahan namun
pasti kebiasaan yang dulu kembali lagi, karena aku gak ngerasain ada feeling
sama cowok yang lain selain kamu. Di lapangan sekolah aku sempat melihat kamu
sedang membuat sketsa wajah perempuan tapi aku tidak begitu jelas melihat wajah
itu yang ku lihat hanya gambar seorang
perempuan yang memiliki rambut yang panjang dan aku langsung saja berpikir
kalau itu sketsa wajah Aya.
Ujian Akhir semakin dekat mama dan papa
semakin menjadi, setiap hari aku disuruh belajar tapi mau bagaimana lagi aku
gak bisa konsentrasi karena teringat kamu lagi dan lagi bahkan sampai UNpun
tiba aku tetap susah konsentrasi belajar karena ingat kamu, tapi aku harus
bagaimana lagi aku gak bisa move on dan untuk ngakuin perasaan aku juga pesimis
karena aku gak ada apa-apanya kalau dibandingin dengan Aya cewek pujaan kamu.
Aku jadi sering menghindar dan berusaha untuk belajar walaupun itu sangat
sulit.
UN berlalu sekarang tinggal menunggu
hasilnya. Alhamdulillah kita semua lulus. Di malam setelah pengumuman hasil UN
aku sempat sedih juga sih karena harus berpisah dari semua teman-teman terlebih
lagi kamu.
Khayalan ku tentang masa lalu kita
buyar ketika mama mengetuk pintu kamar.
Tokk..tokk.tokk.
“Nak ayo makan malam sudah siap”.
“Ohhh
iya Ma tunggu sebentar”. Jawabku
Di meja makan terhidang makan yang
banyak.
“
Pa kok makanannya banyak banget yach? “. Tanyaku
“Kata
mamamu sih anggap aja ini pesta perayaan kelulusan kamu”. Papa menjawab dengan
tersenyum
“Lahh
kalau mau ngerayaain kelulusan tuh seharusnya saat seteleh pengumuman kelulusan
bukannya setelah perpisahan sekolah begini sekalian aja pas aku masuk perguruan
tinggi bikin perayaannya”. Sindirku
Papa dan Mama pun hanya tertawa
kecil. Sambil makan Mama malah melanjutkan percakapan tadi sore sepulang kami
dari acara perpisahan sekolahku.
“
Pa tahu tidak anak kita ternyata sombong juga yah” Ujar mama.
“Maksud
Mama apa?” tanya Papa
“ Tadi ada cowok yang manggil-manggil dia
tapi malah dicuekin Pa”.
“
Ahh masa sich ma anak kita kayak gitu?”.
“ Ihhh mama aku kan gak denger kalau ada
yang manggil aku” aku menjawab dengan harapan mama berhenti membahas ini.
“
Masa sih kamu gak deket orang dia duduk gak jauh dari kamu, mama aja yang udah
tua gini masih bisa denger dengan jelas”.
“ Serius ma aku gak denger”.
Alhamdulillah
mama tidak melanjutkan pembicaraan ini karena telepon rumah tiba-tiba saja
bordering. Setelah kenyang aku langsung menuju ke kamar dan merebahkan tubuh di
tempat tidur. Aku terpikir kembali dengan sikapku di perpisahan tadi. Terbayang
suasana perpisahan tadi, kamu duduk di belakang tak jauh dari tempat dudukku
sambil memanggil-manggil namaku. Leherku rasanya berat untuk menoleh walaupun
aku tahu benar bahwa kamu yang memanggil-manggil namaku.
Saat
mau pulang aku melihat kamu membawa sebuah kertas gambar dengan diikat pita aku
rasa itu pasti sketsa wajah yang waktu itu kamu buat dan itu sudah pasti untuk
Aya. Ketika di gerbang aku melihat kamu dan teman-temanmu yang lain sedang
berfoto-foto, apa mungkin karena kamu mendapati aku memerhatikan kamu, kamu
langsung saja berteriak memanggil namaku. Karena salah tingkah dan malu aku pun
langsung saja berlari seakan-akan aku tidak mendengarmu.
Aku
yakin pasti kamu marah atau mungkin kecewa dengan sikap itu tapi seandainya
saja kamu tahu alasan aku. Aku cuman berusaha menghindar agar aku tidak selalu
menunggu harapan palsu darimu karena dengan semua kebaikan dan keramahanmu
padaku hanya selalu membuatku merasa ada harapan untuk kita bisa bersatu.
Sebelum
tertidur aku sempat smsan menceritakan kejadian di perpisahan sekolah tadi pada
si adik kelasku. Mataku jaid semakin berat dan aku pun mengatakan “aku suka
sama kamu Rio, seandainya kamu tahu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar