Pages

Text Widget

Text Widget

Categories

Minggu, 04 Agustus 2013

Cerpen : Seandainya Kamu Tahu 2




                “Fany..Fany…”  mungkin sudah 20 kali memanggil namany  tapi dia tidak berbalik. Apa mungkin dia tidak mendengarnya, mungkin karena di aula sedikit berisik jadi aku bisa sedikit memaklumi.
“Fany ayo sini”.
                Teriakku ketika melihat Fany yang berada di dekat gerbang sekolah dia langsung saja berlalu seperti angin dan hilang dari pandanganku. Sebenarnya ada apa dengan dia, apa dia marah sama aku yah.
“Kenapa Rio?” tanya Aya padaku.
“ Ohh.. tidak.. tidak kok..” jawabku.
                Sepulang dari acara perpisahan aku mampir dulu ke rumah Aya untuk mengembalikan buku yang pernah kupinjam darinya. Beberapa menit ngobrol sama dia lalu pamit pulang.
“Aku pamit pulang yah Aya.”
“Loh kok cepet banget udah mau pulang kan aku masih mau ngobrol sama kamu”.
“Maaf aku mau beli bensin dulu mobil aku udah mau abis tuh bensinnya”.
                “Goblok” langsung saja aku mengetuk-ngetuk kepalaku ketika sampai di depan pintu rumah Ay.
“Kamu kenapa Rio kok kepalanya di pukul-pukul gitu?”
“Ahh.. gak kenapa-kenapa kok”.
                Aku benar-benar merasa sangat bodoh untuk apa aku berbohong kalau bensin mobilku sudah mau habis. Aya hanya melambai ketika aku sudah naik di atas mobil, aku pun berlalu dnegan cepat menyusuri jalan ini.
                Sudah hampir sejam aku berputar-putar saja di daerah ini, dari kejauhan aku memandang ke rumah itu sambil berpikir.
“Aku harus ngasih gambar dan album ini sama dia, ini bisa jadi kesempatan terakhirku untuk bisa ngasih ini ke dia dan untuk mengungkapkan perasaanku ini ”. 
                Aku ngoceh sendiri di dalam mobil sambil mengumpulkan keberanian untuk turun dari mobil dan mengetuk pintu itu dan memberikan gambar ini sama dia. Aku baru sadar kalau sekarang sudah maghrib ketika mendengar suara adzan. Ternyata sudah 2 jam aku di sini dan masih saja kertas gambar dan album ini ada di tanganku. Aku langsung tancap gas ketika aku melihat seseorang keluar dari rumah itu.
                Sesampainya di rumah aku langsung mandi. Lalu teringat lagi dengan semua kejadian yang tadi. Aku benar-benar sangat kecewa dengan diriku sendiri. Sambil memukul-mukul dinding kamar mandi aku memaki diriku sendiri.
“Pengecut kamu.. Sudah selama ini kamu begini, masih tidak berani menyatakan perasaan sama dia. Apa kamu ini cowok masa ngomong sama dia aja susahnya minta ampun. 3 tahun sudah kamu begini cuman begini-begini saja, tadi itu mungkin saja kesempatan terakhir kamu untuk ketemu dia dan menyatakan perasaan kamu.. Pengecut..pengecut.. ”.
                Setelah mandi dan sholat saatnya untuk makan malam. Papa dan Mama serta 2 adikku sudah menunggu di meja makan.
“Nak kamu kok kamu mukanya gak semangat gitu, kamu gak suka sama makanannya yah?”. Tanya Mama padaku.
“Ohh tidak kok Ma makanannya enak kok cuman aku lagi gak semangat aja.” Jawabku
“Memangnya ada apa nak?” tanya Mama lagi
“ tidak ada apa-apa kok Ma”.
“Mama ini anaknya udah segede ini masih aja Mama mau tahu aja urusan anaknya.” Balas Papa
“ Palingan Kakak sedih nantinya gak ketemu sama cinta pertamanya tuh”. Celetuk Angga
“Huss enak aja kamu ini masih kecil sudah ngomongin cinta”.
“ Ihh benerkan kak, setiap malam aku ngeliat kakak mandangin foto cewek, kakak juga sering banget tuch bikikn sketsa gambar tuch cewek.” Celetuk Angga lagi
“ Dasar Angga jadi kamu suka masuk kamar kakak gak bilang-bilang”. Jawabku dengan marah
“ Sudah..sudah.. ini meja makan jadi jangan bertengkar begitu” sahut Papa
                Kembali ke kamar aku mengambil gitar lalu keluar ke balkon. Aku bernyanyi sambil memainkan gitar.
“ini adalah lagu kesukaanmu bukan?”.
             Aku bicara sendiri, aku merasa sudah seperti orang gila. Malam semakin larut dan aku masih duduk di balkon dan melihat ke langdit lalu teringat kejadian-kejadian di masa lalu.
         10 tahun lalu di bangku kelas 2 SD masih dengan celana pendek merah dan baju putih. Seorang gadis kecil yang duduk di bangku taman sekolah kelihatannya dia sedang sedih lalu aku menghampirinya.
“Kamu kenapa?”. Tanyaku
“ Tadi aku jatuh dan lolipopku juga terjatuh”. Jawabnya
“ Oh jangan sedih, kata mamaku lollipop itu tidak baik karena nanti bikin gigi rusak”. Ucapku
“ Haa?? Jadi gigi aku bisa rusak kalau makan lollipop terlalu banyak”. Jawabnya dengan sedikit tersenyum
“ ini kamu mau biskuit?” tanyaku
Dia hanya mengangguk. Itulah saat pertama aku mengenalnya. Senyumannya itu tidak bisa kulupakan. Saat itu aku lupa menanyakan namanya jadi aku meminta temanku untuk mencari tahu nama gadis kecil itu.
                Akhirnya aku tahu nama gadis kecil itu, sekitar setahun aku sering memerhatikannya bisa dibilang aku suka sama dia, dia itu cinta monyetku. Seperti yang papa pernah bilang kalau anak cowok itu suka sama cewek pasti nanti si cowok suka ngeliat tuh cewek dan selalu berusaha untuk menarik perhatian. Mungkin karena malu-malu aku tidak berani mencoba mencari perhatiannya. Siapa sangka Papa dipindah tugaskan otomatis kami sekeluarga harus meninggalkan kota ini dan ikut sama papa.
                Sedih juga karena jadi tidak bisa ketemu sama cewek itu lagi. Hampir 6 tahun kami sekeluarga meninggalkan kota ini dan akhirnya kembali lagi di tahun 2010. Aku mendaftar di salah satu SMU yang populer di sini, siapa sangka aku bertemu dengan seorang gadis yang memiliki senyuman indah dan ia mengingatkanku dengan seseorang.
                Aku berhasil masuk ke sekolah itu dengan nilai tes yang memuaskan. Di papan pengumuman aku melihat nama yang tidak asing sepertinya nama itu seperti dengan cewek yang aku suka 10 tahun lalu. Hari pertama MOS aku lupa membawa alat pembersih dan ada juga seseorang yang lupa membawanya juga. Kami berdua dihukum untuk bernyanyi, namun lucunya kami berdua lupa lirik lagu. Benar-benar malu tapi sekaligus menyenangkan.
                Kami berdua ternyata punya hobi yang sama yaitu menggambar dan akhirnya kami berdua masuk ke ekskul melukis. Selama setahun aku dan dia sekelas namun menuju ke kelas 2 kami tidak sekelas. Di kelas yang baru dengan beberapa teman yang baru tapi sebenarnya kami semua sudah saling mengenal hanya saja belum terlalu akrab karena waktu kelas 1 kami hanya saling menyapa saja jarang melakukan komunikasi yang lebih dalam.
                Aku punya sahabat di kelas 2 ini namanya Aya, dia itu gadis yang cantik, cerdas dan baik. Kami langsung saja nyambung dan aku dan diapun sering jalan bareng. Aku juga jadi akrab dengan teman-teman Aya yang lain mereka semua pada asyik-asyik buat diajak ngomong dan mereka juga pada humoris. Di pertengahan tahun akhirnya Aya punya pacar, pacarnya ini baik dan sangat perhatian sama Aya dan dia juga baik sama kami teman-teman Aya.
                Siang ini aku tidak bisa ikut ekskul karena ada tugas penting yang harus dikumpul besok pagi untung saja ada Aya yang mau membantuku. Hari sudah sore dan akhirnya tugasku sudah selesai, karena Aya tidak bisa dijemput oleh pacarnya jadi aku yang mengantarnya pulang.
                Aya terlihat sedih ketika ia harus menjalani LDR dengan pacarnya. Dia jadi kurang bersemangat dan akupun tidak tega melihat itu semua akupun selalu berusaha menghiburnya. Ke manapun dia pergi aku pasti menemani dia karena aku kasihan juga kalau dia harus merasa kesepian karena pacarnya tidak ada di sampingnya.
                Lagi asyik-asyiknya nginget masa lalu adikku yang paling kecil manggil.
“Kak Riooo.. kata mama masuk jangan dibalkon terus nanti masuk angin”.
“Iya dek”.
                Di kamar sambil memandang langit-langit rumah aku ngeliat foto dia lagi. Setiap hari aku berusaha memerhatikamu, aku mulai mencari tahu apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka, sudah selama ini aku suka sama kamu tapi aku ini pengecut dan tak pernah berani bilang sama kamu kalau aku suka sama kamu.
                “Aku suka sama kamu Fany, apa kamu juga suka sama aku.”
                 Aku jadi nginget waktu itu di ruang ekskul melukis aku sengaja duduk di tempat ini agar bisa duduk di dekat kamu. Kamu berjalan terlihat bingung mencari tempat duduk aku bermaksud untuk mengajakmu untuk duduk di sampingku tapi aku tak bisa berkata-kata aku hanya bisa tersenyum saja. Saat aku melukis aku terkejut melihat kamu akupun berusaha untuk menutupi gambarku.
“ Kamu tahu tidak hari ini saat aku melihat kamu di gerbang sebenarnya ada sesuatu yang mau aku bilang ke kamu dan ada sesuatu yang mau aku berikan ke kamu tapi kamu malah menghindar mungkin kamu begitu karena kamu tidak suka denganku. Apa kamu tahu aku tetap berusaha untuk memberikan benda ini ke kamu anggap saja sebagai hadiah perpisahan makanya aku ke rumah kamu tapi mau bagaimana lagi aku ini hanya seorang pengecut. Aku malah terduduk di dalam mobil selama 2 jam dan tidak melakukan apapun.”
                Besok adalah hari terakhirku ada di kota ini karena aku mendapat beasiswa untuk kuliah di London. Keesokan hanrinya Aya dan keluargaku yang lain mengantarku ke bandara. Sebelum masuk ke dalam aku teringat dengan kotak yang berisi album dan gambarku. Aku berpikir
“tak apalah kalau Fany tidak suka padaku tapi setidaknya aku harus memberikan ini padanya karena ini memang sesuatu yang kuabuat untuknya kalau tidak sekarang pasti aku akan menyesal selamanya “.
                Akupun memberikan kotak ini kepada Aya. Aku berharap dia bisa memberikan ini pada Fany.
“Aya aku minta tolong yah kamu kasih ini ke Fany”.
                “Kamu ini gimana sih kok kemarin kamu gak kasih ke dia padahal kamu udah bikin ini udah lama tapi masih aja kamu simpan sendiri”.
                Itulah Aya dia memang sering mengomeliku setiap saat aku bercerita padanya tentang Fany. Dia selalu saja mengomel karena aku tidak pernah menyatakan perasaan ke Fany”.
Masuk ke pesawat aku hanya bisa bilang “GOODBYE MY SECRET LOVE, Aku cinta sama kamu, seandainya kamu tahu itu”.


2 komentar:

About Me

Designed ByBlogger Templates