“Fany..Fany…” mungkin sudah 20 kali memanggil namany tapi dia tidak berbalik. Apa mungkin dia tidak
mendengarnya, mungkin karena di aula sedikit berisik jadi aku bisa sedikit
memaklumi.
“Fany ayo sini”.
Teriakku
ketika melihat Fany yang berada di dekat gerbang sekolah dia langsung saja
berlalu seperti angin dan hilang dari pandanganku. Sebenarnya ada apa dengan dia,
apa dia marah sama aku yah.
“Kenapa Rio?” tanya Aya padaku.
“ Ohh.. tidak.. tidak kok..” jawabku.
Sepulang
dari acara perpisahan aku mampir dulu ke rumah Aya untuk mengembalikan buku
yang pernah kupinjam darinya. Beberapa menit ngobrol sama dia lalu pamit
pulang.
“Aku pamit pulang yah Aya.”
“Loh kok cepet banget udah mau pulang kan aku masih mau
ngobrol sama kamu”.
“Maaf aku mau beli bensin dulu mobil aku udah mau abis
tuh bensinnya”.
“Goblok”
langsung saja aku mengetuk-ngetuk kepalaku ketika sampai di depan pintu rumah
Ay.
“Kamu kenapa Rio kok kepalanya di pukul-pukul gitu?”
“Ahh.. gak kenapa-kenapa kok”.
Aku
benar-benar merasa sangat bodoh untuk apa aku berbohong kalau bensin mobilku
sudah mau habis. Aya hanya melambai ketika aku sudah naik di atas mobil, aku
pun berlalu dnegan cepat menyusuri jalan ini.
Sudah
hampir sejam aku berputar-putar saja di daerah ini, dari kejauhan aku memandang
ke rumah itu sambil berpikir.
“Aku harus ngasih gambar dan album ini sama dia, ini bisa
jadi kesempatan terakhirku untuk bisa ngasih ini ke dia dan untuk mengungkapkan
perasaanku ini ”.
Aku
ngoceh sendiri di dalam mobil sambil mengumpulkan keberanian untuk turun dari
mobil dan mengetuk pintu itu dan memberikan gambar ini sama dia. Aku baru sadar
kalau sekarang sudah maghrib ketika mendengar suara adzan. Ternyata sudah 2 jam
aku di sini dan masih saja kertas gambar dan album ini ada di tanganku. Aku
langsung tancap gas ketika aku melihat seseorang keluar dari rumah itu.
Sesampainya
di rumah aku langsung mandi. Lalu teringat lagi dengan semua kejadian yang
tadi. Aku benar-benar sangat kecewa dengan diriku sendiri. Sambil memukul-mukul
dinding kamar mandi aku memaki diriku sendiri.
“Pengecut kamu.. Sudah selama ini kamu begini, masih
tidak berani menyatakan perasaan sama dia. Apa kamu ini cowok masa ngomong sama
dia aja susahnya minta ampun. 3 tahun sudah kamu begini cuman begini-begini saja,
tadi itu mungkin saja kesempatan terakhir kamu untuk ketemu dia dan menyatakan
perasaan kamu.. Pengecut..pengecut.. ”.
Setelah
mandi dan sholat saatnya untuk makan malam. Papa dan Mama serta 2 adikku sudah
menunggu di meja makan.
“Nak kamu kok kamu mukanya gak semangat gitu, kamu gak
suka sama makanannya yah?”. Tanya Mama padaku.
“Ohh tidak kok Ma makanannya enak kok cuman aku lagi gak
semangat aja.” Jawabku
“Memangnya ada apa nak?” tanya Mama lagi
“ tidak ada apa-apa kok Ma”.
“Mama ini anaknya udah segede ini masih aja Mama mau tahu
aja urusan anaknya.” Balas Papa
“ Palingan Kakak sedih nantinya gak ketemu sama cinta
pertamanya tuh”. Celetuk Angga
“Huss enak aja kamu ini masih kecil sudah ngomongin
cinta”.
“ Ihh benerkan kak, setiap malam aku ngeliat kakak
mandangin foto cewek, kakak juga sering banget tuch bikikn sketsa gambar tuch
cewek.” Celetuk Angga lagi
“ Dasar Angga jadi kamu suka masuk kamar kakak gak
bilang-bilang”. Jawabku dengan marah
“ Sudah..sudah.. ini meja makan jadi jangan bertengkar begitu”
sahut Papa
Kembali
ke kamar aku mengambil gitar lalu keluar ke balkon. Aku bernyanyi sambil
memainkan gitar.
“ini adalah lagu kesukaanmu bukan?”.
Aku
bicara sendiri, aku merasa sudah seperti orang gila. Malam semakin larut dan
aku masih duduk di balkon dan melihat ke langdit lalu teringat
kejadian-kejadian di masa lalu.
10
tahun lalu di bangku kelas 2 SD masih dengan celana pendek merah dan baju
putih. Seorang gadis kecil yang duduk di bangku taman sekolah kelihatannya dia
sedang sedih lalu aku menghampirinya.
“Kamu kenapa?”. Tanyaku
“ Tadi aku jatuh dan lolipopku juga terjatuh”. Jawabnya
“ Oh jangan sedih, kata mamaku lollipop itu tidak baik
karena nanti bikin gigi rusak”. Ucapku
“ Haa?? Jadi gigi aku bisa rusak kalau makan lollipop
terlalu banyak”. Jawabnya dengan sedikit tersenyum
“ ini kamu mau biskuit?” tanyaku
Dia hanya mengangguk. Itulah saat pertama aku
mengenalnya. Senyumannya itu tidak bisa kulupakan. Saat itu aku lupa menanyakan
namanya jadi aku meminta temanku untuk mencari tahu nama gadis kecil itu.
Akhirnya
aku tahu nama gadis kecil itu, sekitar setahun aku sering memerhatikannya bisa
dibilang aku suka sama dia, dia itu cinta monyetku. Seperti yang papa pernah
bilang kalau anak cowok itu suka sama cewek pasti nanti si cowok suka ngeliat
tuh cewek dan selalu berusaha untuk menarik perhatian. Mungkin karena malu-malu
aku tidak berani mencoba mencari perhatiannya. Siapa sangka Papa dipindah
tugaskan otomatis kami sekeluarga harus meninggalkan kota ini dan ikut sama
papa.
Sedih
juga karena jadi tidak bisa ketemu sama cewek itu lagi. Hampir 6 tahun kami
sekeluarga meninggalkan kota ini dan akhirnya kembali lagi di tahun 2010. Aku
mendaftar di salah satu SMU yang populer di sini, siapa sangka aku bertemu
dengan seorang gadis yang memiliki senyuman indah dan ia mengingatkanku dengan
seseorang.
Aku
berhasil masuk ke sekolah itu dengan nilai tes yang memuaskan. Di papan
pengumuman aku melihat nama yang tidak asing sepertinya nama itu seperti dengan
cewek yang aku suka 10 tahun lalu. Hari pertama MOS aku lupa membawa alat
pembersih dan ada juga seseorang yang lupa membawanya juga. Kami berdua dihukum
untuk bernyanyi, namun lucunya kami berdua lupa lirik lagu. Benar-benar malu
tapi sekaligus menyenangkan.
Kami
berdua ternyata punya hobi yang sama yaitu menggambar dan akhirnya kami berdua
masuk ke ekskul melukis. Selama setahun aku dan dia sekelas namun menuju ke
kelas 2 kami tidak sekelas. Di kelas yang baru dengan beberapa teman yang baru
tapi sebenarnya kami semua sudah saling mengenal hanya saja belum terlalu akrab
karena waktu kelas 1 kami hanya saling menyapa saja jarang melakukan komunikasi
yang lebih dalam.
Aku punya
sahabat di kelas 2 ini namanya Aya, dia itu gadis yang cantik, cerdas dan baik.
Kami langsung saja nyambung dan aku dan diapun sering jalan bareng. Aku juga
jadi akrab dengan teman-teman Aya yang lain mereka semua pada asyik-asyik buat
diajak ngomong dan mereka juga pada humoris. Di pertengahan tahun akhirnya Aya
punya pacar, pacarnya ini baik dan sangat perhatian sama Aya dan dia juga baik
sama kami teman-teman Aya.
Siang
ini aku tidak bisa ikut ekskul karena ada tugas penting yang harus dikumpul
besok pagi untung saja ada Aya yang mau membantuku. Hari sudah sore dan
akhirnya tugasku sudah selesai, karena Aya tidak bisa dijemput oleh pacarnya
jadi aku yang mengantarnya pulang.
Aya
terlihat sedih ketika ia harus menjalani LDR dengan pacarnya. Dia jadi kurang
bersemangat dan akupun tidak tega melihat itu semua akupun selalu berusaha
menghiburnya. Ke manapun dia pergi aku pasti menemani dia karena aku kasihan
juga kalau dia harus merasa kesepian karena pacarnya tidak ada di sampingnya.
Lagi
asyik-asyiknya nginget masa lalu adikku yang paling kecil manggil.
“Kak Riooo.. kata mama masuk jangan dibalkon terus nanti
masuk angin”.
“Iya dek”.
Di
kamar sambil memandang langit-langit rumah aku ngeliat foto dia lagi. Setiap
hari aku berusaha memerhatikamu, aku mulai mencari tahu apa yang kamu suka dan
apa yang kamu tidak suka, sudah selama ini aku suka sama kamu tapi aku ini
pengecut dan tak pernah berani bilang sama kamu kalau aku suka sama kamu.
“Aku
suka sama kamu Fany, apa kamu juga suka sama aku.”
Aku jadi nginget waktu itu di ruang ekskul
melukis aku sengaja duduk di tempat ini agar bisa duduk di dekat kamu. Kamu berjalan
terlihat bingung mencari tempat duduk aku bermaksud untuk mengajakmu untuk
duduk di sampingku tapi aku tak bisa berkata-kata aku hanya bisa tersenyum
saja. Saat aku melukis aku terkejut melihat kamu akupun berusaha untuk menutupi
gambarku.
“ Kamu tahu tidak hari ini saat aku melihat kamu di
gerbang sebenarnya ada sesuatu yang mau aku bilang ke kamu dan ada sesuatu yang
mau aku berikan ke kamu tapi kamu malah menghindar mungkin kamu begitu karena
kamu tidak suka denganku. Apa kamu tahu aku tetap berusaha untuk memberikan
benda ini ke kamu anggap saja sebagai hadiah perpisahan makanya aku ke rumah
kamu tapi mau bagaimana lagi aku ini hanya seorang pengecut. Aku malah terduduk
di dalam mobil selama 2 jam dan tidak melakukan apapun.”
Besok
adalah hari terakhirku ada di kota ini karena aku mendapat beasiswa untuk
kuliah di London. Keesokan hanrinya Aya dan keluargaku yang lain mengantarku ke
bandara. Sebelum masuk ke dalam aku teringat dengan kotak yang berisi album dan
gambarku. Aku berpikir
“tak apalah kalau Fany tidak suka padaku tapi setidaknya
aku harus memberikan ini padanya karena ini memang sesuatu yang kuabuat
untuknya kalau tidak sekarang pasti aku akan menyesal selamanya “.
Akupun
memberikan kotak ini kepada Aya. Aku berharap dia bisa memberikan ini pada
Fany.
“Aya aku minta tolong yah kamu kasih ini ke Fany”.
“Kamu
ini gimana sih kok kemarin kamu gak kasih ke dia padahal kamu udah bikin ini
udah lama tapi masih aja kamu simpan sendiri”.
Itulah
Aya dia memang sering mengomeliku setiap saat aku bercerita padanya tentang
Fany. Dia selalu saja mengomel karena aku tidak pernah menyatakan perasaan ke
Fany”.
Masuk ke pesawat aku hanya bisa bilang “GOODBYE MY SECRET
LOVE, Aku cinta sama kamu, seandainya kamu tahu itu”.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus